Selasa, 16 Juni 2015

kontes ratu kecantikan yang masih menjadi pro dan kontra




Menutrut etimologi, kontes diartikan dengan pertandingan kecantikan, sedangkan ratu ialah raja perempuan, dan kecantikan ialah keelokan. Maka kontes ratu kecantikan mempunyai makna bahwa pertandingan perempuan-perempuan cantik yang kemudian diidentikkan sebagai raja.
Pagelaran kontes kontes ratu kecantikan bagi kaum perempuan dibolehkan oleh syari’ah Islam bila pelaksanaanya sesuai dengan semangat dan tuntunannya. Dibolehkan ini dimaksudkan karena mereka pantas melakukan pagelaran. Namun dibalik kebolehan melakukan pagelaran itu, Islam melarang pelaksanaan kontes ratu kecantikan, jika dilakukan menyimpang dari tuntunan syari’ahnya.
Bila dilihat dari tujuannya kontes ratu kecantikan kalau dikaitkan dengan agama maka kelihatnnya tidak ada yang menyentuh, apalagi membawa misi Islam. Jika dilihat dari penampilan seperti pelaksanaannya setengah telanjang, karena pakaian yang dikenakan super mini. Pelarangan ini bukan pada kontesnya, melainkan pada modelnya yang mungkin dapat dikatakan bahwa sebagian besar aurat mereka terbuka. Dan mempertontonkannya baik secara perorangan apalagi dihadapan publik. Rosulullah SAW bersabda:
dari Abi Hurairah ra. Rasulullah SAW. Bersabda bahwa laki-laki tidak melihat aurat laki-laki, dan perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan (HR. Muslim).”[1][4]
Menurut madhab Maliki, aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Dan menurut madhab Syafi’i dan Hambali bahwa wajah dan kedua telapak tangan bagian dari aurat, karena wajah merupkan alat ukur ketampanan seorang perempuan, pemikat dan merupkan sumbar fitnah apabila tidak dijaga.
Dan bila dilihat dari dampaknya, kegiatan ini mengundang fitnah dan membangkitkan nafsu birahi. Dilihat dari segi kedudukannya, kontes ratu kecantikan adalah suatu aktifitas yang secara jelas tidak ditemukan dalil yang melarangnya, tetapi cara dan penampilannya dalam kontes tersebut diperhadapkan dengan hukum syri’ah. Kenyataanya implikasi dari kontes harapannya untuk meraih penghargaan yang tertinggi sehingga segala cara dilakukan.
Kontes ratu kecantikan yang dilaksanakan dewasa ini sangat memprihatinkan karena kontrol agama sebagai satu-satunya penangkal agar perempuan menutup auratnya seakan terabaikan begitu saja apalagi kontes ini merupakan even tingkat dunia, yang menurut galibnya memaksakan perempuan muslim berbusana kebarat-baratan sebagai konsekuensi sebuah kontes. Jika asumsi ini benar maka yang demikian itu, sampai kapan pun syariah Islam tidak akan pernah membenarkan untuk dilaksanakan. Sebaliknya jika asumsi ini salah dan para kontes mengenakan pakaian yang standar sesuai dengan karakteristik Islami maka syari’ah Islam membenarkan.
Kenyataan tidak mengatakan demikian, ada saat-saat dimana para kontestan harus mempublikasikan tubuh wilayah privasinya kepada publik dan bahkan faktor inilah yang menjadi faktor alasan kemenangan. Dalam konteks kemuliaan perempuan, hal ini sangatlah kontradiktif. Semakin perempuan banyak menggunakan kecantikan badani sebagai kekuatan andalan, maka semakin ia menjadi budak zaman




strata sosial di msyarakat indonesia semakin tinggi



            Stratifikasi sosial (Social Stratification) berasal dari kata bahasa latin “stratum” (tunggal) atau “strata” (jamak) yang berarti lapisan. Dalam Sosiologi, stratifikasi sosial dapat diartikan sebagai pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat
            Dengan demikian, dapat saya simpulkan bahwa stratifikasi sosial merupakan pembedaan masyarakat atau penduduk berdasarkan kelas-kelas yang telah ditentukan secara bertingkat berdasarkan dimensi kekuasaan, previllege (hak istimewa atau kehormatan) dan prestise (wibawa).
            Lapisan  masyarakat ( stratifikasi sosial ) adalah perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat ( secara hierarkis ).
            Kelas-kelas dalam lapisan masyarakat ada tiga yaitu:
  a  Kelas atas.   b. Kelas menengah.  c.  Kelas bawah. 
Sistem lapisan masyarakat terjadi karena dua hal yaitu:
       a.       Terjadi dengan sendirinya.
       b.      Terjadi dengan seengaja di susun untuk mengejar tumpuan bersama.
Pedoman untuk meneliti pokok-pokok terjadinya proses lapisan dalam masyarakat:
       a.       Pada sistem pertentangan yang ada dalam masyarakat, sistem demikian hanya mempunyai arti khusus bagi masyarakat-masyarakat tertentu.
       b.      Sistem lapisan dapat di analisis dalam arti-arti:           
a.   Distribusi hak-hak istimewa yang objektif seperti misalnya penghasilan, kekayaan, dan keselamatan.
b.   Sistem pertanggaan yang di ciptakan oleh para warga masyarakat.
c.  Kriteria sistem pertentangan dapat berdasarkan kualitas pribadi, keanggotaan kelompok kerabat tertentu, milik, wewenang atau kekuasaan.
d. Lambang-lambang kedudukan, seperti tingkah laku hidup, cara berpakaian,  perumahan, keanggotaan pada suatu organisasi dan selanjutnya.
e.   Mudah sukar bertukar kedudukan.
Solidaritas di antara individu atau kelompok-kelompok sosial yang menduduki kedudukan yang sama dalam sistem sosial masyarakat.
Sifat sistem lapisan dalam suatu masyarakat dapat bersifat tertutup ( closed social stratification ) dan dapat bersifat terbuka (  open social stratification )
            Kelas sosial ( social class ) adalah semua orang dan keluarga yang sadar akan kedudukannya di dalam  suatu lapisan, sedangkan kedudukan mereka itu diketahui serta di akui oleh masyarakat.

Kamis, 04 Juni 2015

berbagai jenis macam penelitian



                Penelitian kuantitatif adalah suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa angka sebagai alat menemukan keterangan mengenai apa yang ingin kita ketahui. Pada umumnya penelitian kuantitatif dapat dilaksanakan juga sebagai penelitian pemerian atau penelitian diskriptif.. Ada penelitian yang dilakukan teruatama mengumpulkan data yang diungkapkan sebagai hasil pengukuran. Data yang terkumpul akan berbentuk angka dan itu tergolong dalam penelitian kuantitatif  angkaeksperimentan dan penelitian eksperimantal.
           Penelitian kuantitatif juga bisa jenis penelitian yang menggunakan rancangan penelitian berdasarkan prosedur statistik atau dengan cara lain dari kuantifikasi untuk mengukur variabel penelitiannya
Tujuan Penelitian Kuantitatif adalah mengembangkan dan menggunakan model-model matematis, teori-teori dan hipotesis yang dikaitkan denganfenomena alam.
Penelitian kuantitatif banyak digunakan untuk menguji suatu teori, untuk menyajikan suatu fakta atau mendeskripsikan statistik, untuk menunjukkan hubungan antarvariabel
Hal yang perlu diperhatikan dalam penelitian kuantitatif:
1.      Langkah penelitian
Segala sesuatu direncanakan sampai matang ketika persiapan disusun
Dapat menggunakan sampel dan hasil penelitiannya diberlakukan untuk populasi
Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti, sedangkan populasi merupakan keseluruhan dari subjek penelitian.
2.      Hipotesis
Mengajukan hipotesis yang akan diuji dalam penelitian hipotesis menentukan hasil yang diramalkan Priori
3.      Desain
Dalam desain jelas langkah-langkah penelitian dan hasil yang diharapkan
4.      Pengumpulan Data
Kegiatan dalam pengumpulan data memungkinkan untuk diwakilkan
5.      Analisis Data
Dilakukan sesudah semua data terkumpul
6.      Prosedur Penelitian
Menurut Craig (1985) mengemukakan langkah-langkah penelitian ilmiah adalah sebagai berikut:
a.       Identifikasi masalah
  1. Merumuskan hipotesis
  2. Mendefinisikan istilah
  3. Melakukan penelitian atau observasi lapangan
  4. Analisis data

Rabu, 03 Juni 2015

Interaksi yang mulai di tinggalkan oleh sebagian msyarakatd



Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara individu dan individu, antara individu dengan kelompok atau antara kelompok dengan kelompok dalam berbagai bentuk seperti kerjasama, persaingan ataupun pertikaian.
1.   Interaksi antara individu dengan individu
       Adalah individu yang satu memberikan pengaruh, rangsangan/stimulus kepada individu lainnya dan sebaliknya, individu yang terkena pengaruh itu akan memberikan reaksi, tanggapan atau respon.
2. Interaksi antara individu dengan kelompok
          Secara konkret bentuk interaksi sosial antara individu dengan kelompok bisa digambarkan seperti seorang guru yang sedang berhadapan dan mengajari siswa-siswinya didalam kelas/seorang penceramah yang sedang berpidato didepan orang banyak.
3. Interaksi antar kelompok dengan kelompok
        Bentuk interaksi antara kelompok dengan kelompok saling berhadapan dalam kepentingan, namun bisa juga ada kepentingan individu disitu dan kepentingan dalam kelompok merupakan satu kesatuan, berhubungan dengan kepentingan individu dalam kelompok lain.
Ciri-ciri Interaksi Sosial
         Sistem sosial dalam masyarakat akan membentuk suatu pola hubungan sosial yang relatif baku/tetap, apabila interaksi sosial yang terjadi berulang-ulang dalam kurun waktu relatif lama dan diantara para pelaku yang relatif sama. Pola seperti ini dapat dijumpai dalam bentuk sistem nilai dan norma. Sejarah pola yang melandasi interaksi sosial adalah tujuan yang jelas, kebutuhan yang jelas dan bermanfaat, adanya kesesuaian dan berhasil guna, adanya kesesuaian dengan kaidah sosial yang berlaku dan dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial itu memiliki karakteristik sebagai berikut :
1.       Ada pelaku dengan jumlah lebih dari satu orang.
2.       Interaksi sosial selalu menyangkut komunikasi diantara dua pihak yaitu pengirim (sender) dan penerima (receiver).
3.       Interaksi sosial merupakan suatu usaha untuk menciptakan pengertian diantara pengirim dan penerima.
         Ada tujuan-tujuan tertentu, terlepas dari sama atau tidaknya tujuan tersebut. Interaksi sosial menekankan juga pada tujuan mengubah tingkah laku orang lain yang meliputi perubahan pengetahuan, sikap dan tindakan dari penerima.
Arah Komunikasi dalam Interaksi Sosial Menurut Gibson (1996) desain organisasi harus memungkinkan terjadinya komunikasi 4 arah yang berbeda :
1.  Komunikasi ke bawah (down ward communication) adalah komunikasi yang mengalir dari tingkat atas ke tingkat bawah dalam sebuah organisasi seperti kebijakan pimpinan, instansi/memoresmi.
2. Komunikasi keatas (up ward communication) adalah komunikasi yang mengalir dari tingkat bawah ke tingkat atas sebuah organisasi seperti kotak saran, pertemuan kelompok dan prosedur keluhan.
3. Komunikasi horizontal (horizontal communication) adalah komunikasi yang mengalir melintasi berbagai fungsi dalam organisasi.
4. Komunikasi diagonal (diagonal communication) adalah komunikasi yang bersifat melintasi fungsi dan tingkatan dalam organisasi.

  Faktor-faktor Pendorong Interaksi Sosial
1.      Faktor Internal
a.       Dorongan untuk meneruskan/mengembangkan keturunan. Secara naluriah, manusia mempunyai dorongan nafsu birahi untuk saling tertarik dengan lawan jenis. Dorongan ini bersifat kodrati artinya tidak usah dipelajaripun seseorang akan mengerti sendiri dan secara sendirinya pula orang akan berpasang-pasangan untuk meneruskan keturunannya agar tidak mengalami kepunahan.
b.      Dorongan untuk memenuhi kebutuhan Dorongan untuk memenuhi kebutuhan manusia memerlukan keberadaan orang lain yang akan saling memerlukan, saling tergantung untuk saling melengkapi kebutuhan hidup.
c.       Dorongan untuk mempertahankan hidup Dorongan untuk mempertahankan hidup ini terutama dalam menghadapi ancaman dari luar seperti ancaman dari kelompok atau suku bangsa lain, ataupun dari serangan binatang buas.
d.      Dorongan untuk berkomunikasi dengan sesama Secara naluriah, manusia memerlukan keberadaan orang lain dalam rangka saling berkomunikasi untuk mengungkapkan keinginan yang ada dalam hati masing-masing dan secara psikologis manusia akan merasa nyaman dan tentram bila hidup bersama-sama dan berkomunikasi dengan orang lain dalam satu lingkungan sosial budaya.
2.      Faktor Eksternal
a.       Imitasi,Imitasi dapat diartikan sebagai suatu perbuatan atau tindakan seseorang untuk meniru sesuatu yang ada pada orang lain.
b.      Identifikasi,Merupakan kecenderungan/keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain.
c.       Sugesti,Merupakan cara pemberian suatu pandangan/pengaruh oleh seseorang kepada orang lain dengan cara tertentu sehingga seseorang tersebut mengikuti pandangan atau pengaruh yang diberikan tanpa berpikir panjang.
d.      Simpati,Merupakan sikap keterkaitan terhadap orang lain. Sikap ini timbul karena adanya kesesuaian antara nilai yang dianut oleh kedua belah pihak.
e.       Empati,Merupakan proses sosial yang hampir sama dengan simpati, hanya perbedaannya adalah bahwa empati lebih melibatkan emosi atau lebih menjiawai dalam diri seoang yang lebih daripada simpati.
f.       Motivasi,Adalah suatu dorongan atau rangsangan yang diberikan seseorang kepada orang lain sedemikian rupa sehingga orang yang diberi motivasi tersebut menuruti atau melaksanakan yang dimotivasikan kepadanya.